Penjelasan Seputar Ilmu Laduni

Banyak sekali beredar tentang Ilmu Laduni khususnya di kalangan para santri , berikut ini akan sedikit memberi penjelasan singkat apa sih sebenarnya Ilmu Laduni ? Samakah dengan ilmu-ilmu lainya , seperti ilmu fiqih,ilmu matematika,ilmu kimia atau ilmu lainya seperti hakekat dan marifat misalnya . Mari kita buka bersama, mudah-mudahan artikel ini bermenfaat setidaknya bisa memberi sedikit gambaran pada kita , jika ada orang bicara tentang Ilmu laduni biar sedikit nyambung . Masalah nanti akan anda tambah atau kurangi penjelasanya kita bahas belakang . Setidaknya saat ini kita buat bahasan dulu .
Laduni adalah ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Para malaikat-Nya pun berkata: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Al-Baqarah: 32)
Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua bagian.
  • Pertama, ilmu yang didapat tanpa melalui tahapan belajar (wahbiy).
  • Kedua, ilmu yang didapat melalui usaha belajar (kasbiy).

Ilmu Wahbiy yaitu ilmu yang didapat tanpa melalui tahapan belajar. Ilmu ini terbagi menjadi dua macam:
 Ilmu Syar'iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri'), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. 
Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Khidhir: "Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65)

Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam: "Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga."

Ilmu syari'at ini sifatnya kebenarannya mutlak, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.

Ilmu Ma'rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham / terbukanya tabir ghaib) atau ru'ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih.
Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan "ilmu laduni" di kalangan ahli tasawuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari'at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur'an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.
Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.

  • Ilmu yang paling utama
Dari ketiga ilmu ini (syari'at, ma'rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari'at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari'at.

Demikian penjelasan singkat tentang Ilmu Laduni , adapun Dalil-dalil tentang apakah ilmu Laduni Itu ada atau tidak serta bisa di capai atau tidak akan di bahas di artikel selanjutnya . Seperti biasa dalam dunia ilmu selalu ada banyak perbedaan pendapat , pada akhirnya perbedaan pendapat tadi akan menambah kasanah pengetahuan kita , bukan untuk menambah permusuhan .  Kita akan bahas lain waktu , tentang dalil naqli dan dalil aqli terkait ilmu laduni , serta pendapat ulama dan dasar-dasar seputar ilmu laduni . Contoh Cara Mendapatkan Ilmu Ladunia .

REFRENSI :
  1. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (I/141, 167).
  2. Fiqhut Tasawwuf, Ibnu Taimiah (218).
  3. Mawaqif Ahlusunnah, Utsman Ali Hasan (60, 76).
  4. Al-Fathur Rabbaniy, Abdul Qadir Al-Jailani (hal. 159, 143, 232).
  5. Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Al-Haitamiy (hal. 128, 285, 311).
  6. At-Tasawwuf, Muhammad Fihr Shaqfah (hal. 26, 125, 186, 227).
  7. Al-Hawi, Suyuthiy (2/197).
Advertisement