Membersihkan Rumah Tuhan

Saat kita ingin mendalami perjalanan Rohani maka kita tidak lepas dengan yang Namanya Tuhan . Banyak sekali Difinisi tentang Tuhan , kita tak akan membahas tentang ketuhanan , Silahkan di simpulkan sesuai kepercayaan masing , Tuhan itu siapa, bagaimana ? . Saya hanya ingin membahas tentang Satu titik saja, intinya sekarang Kita sama-sama percaya tentang Adanya Tuhan .

Banyak sekali pengalaman spiritual tentang ketuhanan ini , jika di tulis tentu tak cukup . Bisa di bilang , untuk satu orang saja bisa mengalami banyak sekali pengalaman spiritual , bagaimana dengan seluruh orang yang ada di dunia ini . Wah sangat banyak sekali .

Dari sekian banyaknya pengalaman spiritual , tentu ada rentetan perjalanan panjang mengapa seseorang tersebut bisa masuk dan menikmati spiritual tadi . Bagi yang sudah mengalami sensasi spiritual ini tentu bisa menikmatinya , lantas bagaimana bagi yang belum sama sekali . Bagaimana cara memulainya ?

Berikut ini ada penjelasan singkat , tentang memulai masuk ke alam spiritual ketuhanan .
Sebagai gambaranya adalah Jika kita ingin menuju suatu tempat maka kita harus tahu alamatnya serta rute perjalananya . Agar kita tidak tersesat serta kita bingung setelah sampai tujuan . Tak jarang kita ini pusing tujuh keliling mencari alamat seseorang tapi setelah sampai tujuan kita bingung mau ngapain . Jika ini di lakukan sesama manusia mungkin tak beresiko, tapi kalau sudah berhadapan dengan Rajanya Di Raja , wah kita bisa gila . Untuk itu Agama Islam Memberikan penjelasan sederhana terkait dengan Apa tujuan kita hidup , Tidak lain dan tidak bukan hanya untuk Ibadah,Mengabdi pada Allah . Salah satunya membersihkan Rumah Tuhan .

Seluruh semesta raya ini tidak ada artinya apa-apa dibanding Allah. Berarti segala yang ada, tidak ada yang mampu menampung Allah. Segalanya tidak bisa menjadi tempat semayam Allah. Kecuali hati hamba-Nya yang beriman. Maka di sanalah Allah bersinggasana.

Hati orang yang beriman adalah rumah Allah. Dan karena itu, hati kita adalah amanah Ilahi untuk dijaga, dirawat, dan dirias agar menjadi elok. Hati kita adalah ruang di mana pertemuan dialogis (munajat) antara hamba dengan Rabb berlangsung.

Apabila hati kita tidak bersih, ruang jiwanya tidak bercahaya, sudut-sudutnya tidak aman dari ancaman syetan, tentu tidak ada lagi harapan untuk sebuah istana Ilahi dalam hati kita.

Dalam menjaga dan membangun rumah Tuhan dalam jiwa, ada dua cara yang dilahirkan oleh tradisi keagamaan kita yang agung.

Pertama tradisi tazkiyatun nafs yaitu tradisi membersihkan kejahatan jiwa yang dimulai dengan tobat. Dalam jiwa kita ada sisi gelap yang dipenuhi oleh virus-virus paling menjijikkan. Dimulai dengan virus iri-dengki, lalu berkembang menjadi virus takabbur, riya, ujub, mencintai dunia, kedzaliman, kefasikan, kemunafikan, dan kemudian akan menjurus pada kekufuran.Semua virus itu harus dibersihkan melalui taubat dan dzikrullah.

Dari sinilah muncul paradigma kedua melalui tathirul qulub. Yaitu menyucikan hati melalui riasan etika atau akhlak hamba dengan Allah ta’ala. Penyucian hati berbeda dengan pembersihan jiwa. Kalau penyucian hati lebih menekankan pada riasan pasca pertobatan, lalu ia memasuki wilayah spiritual dengan riasan-riasan maqamat demi maqamat. Sedangan pembersihan jiwa adalah upaya untuk melakukan asketisme secara total. Baik lewat tobat, zuhud, wara’, dan sebagainya.

Dua proses itu lama sekali tidak tergantung dengan lifestyle dan penampilan orang per orang. Orang yang dengan jubah dan jenggot serta tasbih di tangannya belum tentu ia orang suci atau sufi. Jangan-jangan karena ia pamer jubah dan jenggot malah muncul riya’ dan takabur atas nama syiar. Siapa tahu justru mereka yang berpenampilan perlente dengan dasi dan jas dandy serta sepatu mengkilat malah lebih dekat dengan Allah ketimbang Anda yang memakai baju-baju religius?
Jangan-jangan mereka yang pakai rok mini itu memiliki keakraban asketik dengan Allah dibanding Anda yang berjilbab. Siapa tahu?

Dalam wilayah ruhani, baju dan bendera harus dibuang. Bahkan prestasi amaliyah sebagai tempat gantungan masa depan di akhirat pun harus dikubur habis-habis. Pada saat yang sama, hanya Allahlah tempat bergantung. Bukan amal, bukan prestasi, dan bukan pula hasrat-hasrat luhur. Bahwa kita memang sedang beramal bagus. Itulah indikator bahwa kita berada dalam lindungan Ilahi.
Tetapi sebaliknya ketika kita berbuat mungkar dan maksiat itu pertanda kita sedang dihina oleh Allah. Astaghfirullah!
Kelak jika dua cara pembersihan dan penyucian hati itu berlangsung, kita akan memasuki ruang zinatul asrar. Yaitu ruang rahasia yang menjadi manifestasi kemahaindahan Ilahi. Maka di sana rumah Tuhan, bukan saja bersih, tetapi telah menjadi arasy yang hakiki
Advertisement